RSS
Hello! Welcome to my blog!


This is all about movie

The Haunting In Connecticut


THE HAUNTING IN CONNECTICUT


Lihat Gambar

Pemain: Virginia Madsen, Kyle Gallner, Martin Donovan, Elias Koteas

2 star

Sara (Virginia Madsen) dan Peter Campbell (Martin Donovan) terpaksa harus pindah ke Connecticut sejak putra mereka Matt (Kyle Gallner) didiagnosa menderita kanker. Ini terpaksa mereka lakukan karena mereka harus selalu dekat dengan tempat Matt dirawat.

Saat mereka memasuki rumah baru mereka, Matt mulai merasa terganggu dengan beberapa kejadian aneh yang sering terjadi di rumah baru mereka ini. Setelah mereka mencari tahu, ternyata rumah baru keluarga Campbell ini dulunya adalah sebuah kamar mayat.

Karena ketakutan, Sara kemudian meminta bantuan pada seorang pemuka agama bernama Nicholas Popescu (Elias Koteas). Setelah dilakukan sebuah ritual pengusiran roh jahat, untuk beberapa waktu keadaan rumah keluarga Campbell sedikit tenang. Namun itu tak berlangsung lama karena beberapa saat kemudian kondisi Matt tiba-tiba memburuk dan nyawa seluruh keluarga Cambell berada di ujung tanduk.

Film horor dengan latar belakang supranatural ini adalah hasil arahan sutradara Peter Cornwell yang diadaptasi dari sebuah kisah nyata yang sempat ditulis dalam sebuah buku. Memang tak bisa dikatakan kalau THE HAUNTING IN CONNECTICUT ini adalah kisah nyata karena sang penulis naskah dan sutradara hanya mengambil cerita dasarnya saja dan mengolahnya menjadi sebuah film yang layak ditonton.

Sebagai sebuah tontonan yang dimaksudkan untuk menakut-nakuti pemirsa, THE HAUNTING IN CONNECTICUT ini lumayan efektif tapi sepertinya Peter Cornwell masih terikat pada pakem-pakem kejutan yang biasanya ada pad film horor. Artinya, unsur suspense atau ketegangan dibangun dari serangkaian kejutan-kejutan tadi dan bukannya dari permainan timing atau alur cerita yang dibuat semakin meninggi. Untuk kelas film berbau supranatural, sepertinya THE SIXTH SENSE sepertinya masih lebih bagus.

Keadaan jadi lebih buruk karena akting para pemerannya bisa dibilang pas-pasan. Agak janggal memang karena paling tidak ada dua nama besar dalam film ini, Virginia Madsen dan Elias Koteas yang biasanya bermain lebih bagus. Hanya ada dua kemungkinan sampai terjadi seperti ini: naskah yang tidak mengizinkan mereka mengeksplorasi karakter atau sang sutradara yang kurang jeli mengarahkan para pemainnya.

The Twilight Saga; Eclipse

THE TWILIGHT SAGA: ECLIPSE


Lihat Gambar

Pemain: Kristen Stewart, Robert Pattinson, Taylor Lautner

Walaupun untuk sementara permusuhan antara Edward Cullen (Robert Pattinson) dan Jacob Black (Taylor Lautner) dapat diredam namun masalah yang dihadapi Bella Swan (Kristen Stewart) sepertinya belum selesai. Masa sekolah hampir usai dan Bella harus segera membuat pilihan.

Permusuhan antara vampire dan werewolf memang sudah berumur ratusan tahun dan tak bisa begitu saja diakhiri namun Bella juga tak mungkin memilih antara Edward dan Jacob. Bella sangat mencintai Edward namun ia juga tak ingin kehilangan Jacob sebagai seorang sahabat sementara dua pria dalam hidup Bella ini seolah tak bisa akur. Kalaupun ada yang membuat suasana jadi sedikit tenang hanyalah perjanjian wilayah antara kaum vampire dan werewolf yang tetap dipegang sampai saat ini.

Di saat suasana sudah tak mengenakkan seperti ini, muncul masalah baru. Teror vampire kembali merebak. Ada vampire yang membunuh beberapa penghuni kota dengan maksud melampiaskan dendamnya pada Edward. Perang dalam diri Bella sendiri juga semakin hari semakin berkecamuk. Ia harus segera membuat keputusan antara tetap menjadi manusia atau mengikuti Edward dan berubah menjadi vampire.

Up In The Air

UP IN THE AIR


Lihat Gambar

Pemain: George Clooney, Vera Farmiga, Anna Kendrick

4,5 star


Memberhentikan karyawan memang bukanlah pekerjaan mudah. Ada unsur emosional yang kadang membuat proses ini jadi lebih rumit dari yang seharusnya. Di saat seperti ini, diperlukan seorang pakar yang benar-benar tahu bagaimana mengatasi emosi dan orang itu adalah Ryan Bingham (George Clooney).

UP IN THE AIR

Seumur hidupnya, Ryan tak pernah punya siapa-siapa. Ia sengaja melepaskan diri dari hubungan secara emosional dengan siapa pun dan itulah yang membuat Ryan sukses sebagai seorang pakar pengurangan karyawan. Tanpa ikatan emosi pada siapa pun atau apapun, target dalam hidup Ryan hanya satu, mencapai 10 juta mil dengan penerbangan yang sama agar ia mendapatkan kartu eksklusif dari maskapai penerbangan yang biasa ia gunakan.

Hidup Ryan praktis adalah dari satu hotel ke hotel lain. Berbagai tempat sudah ia datangi dan pesawat terbang, buatnya, tak beda dengan mobil buat kebanyakan orang. Buat kebanyakan orang, Ryan adalah orang yang tak punya emosi namun sebenarnya pendapat itu tak sepenuhnya benar. Ryan punya emosi hanya saja ia orang yang sangat handal mengendalikan emosinya.

UP IN THE AIR

Semuanya berjalan lancar sampai Ryan harus 'mengawal' Natalie Keener (Anna Kendrick), karyawan baru di tempat Ryan bekerja. Berlatar belakang sangat berbeda membuat hubungan ini awalnya terasa sangat kikuk namun seiring waktu, Ryan belajar untuk melihat hidup dari sisi pandang orang awam dan ini membuat keseimbangan yang selama ini ia pertahankan jadi goyah. Munculnya karakter Alex Goran (Vera Farmiga) makin menambah kompleks hidup Ryan yang semula sangat simple.

Ada beberapa hal yang menarik dari film ini. Yang pertama, film ini berani lepas dari pakem film Hollywood yang selama ini selalu berakhir bahagia. Jason Reitman berani lepas dari formula itu dengan risiko penonton bakal kecewa. Nyatanya hasil olahan Jason ini tak mengecewakan karena sebagian besar penonton ternyata sama sekali tidak kecewa dengan akhir yang sedikit menyedihkan ini.

UP IN THE AIR

Yang kedua adalah alur cerita yang sederhana nyaris tanpa subplot. Satu-satunya subplot yang ada hanyalah kisah keluarga Ryan yang memang tak bisa dilepas dari alur kisah utama. Bagusnya, dengan alur cerita yang sederhana ini Jason mampu membuat ending yang mengejutkan dan tak terduga sama sekali.

Yang ketiga tentu saja adalah kemampuan akting tiga pemain utama dan chemistry di antara mereka bertiga. Vera Farmiga tampil mantap sebagai wanita pebisnis yang nyaris tanpa emosi, persis seperti peran yang dibawakan oleh George Clooney. Anna Kendrick juga tampil memuaskan sebagai seorang wanita muda yang naif sementara Clooney sendiri sepertinya tak perlu dipertanyakan lagi. Seperti biasa aktor ini tampil mantap dengan gaya cool, senyuman, dan timing yang pas saat mengucapkan dialog. Hasilnya, sebuah film yang enak ditonton sebagai hiburan meski ending-nya tak bisa dibilang happy.

Paathshaala

PAATHSHAALA


Lihat Gambar

Pemain: Shahid Kapoor, Ayesha Takia, Nana Patekar

Sebagai guru baru, Rahul Prakash Udyavar(Shahid Kapoor) memang belum tahu banyak apa yang sebenarnya terjadi di sekolah Swaraswati Vidya Mandir, tempatnya mengajar. Buatnya, guru-guru di sana cukup ramah dan berdedikasi tinggi sementara murid-muridnya pun aktif belajar. Tak ada yang aneh dari sekolah ini sampai akhirnya Rahul sadar bahwa ada sesuatu yang terjadi di belakang kegiatan belajar-mengajar ini.

Setelah mengajar untuk beberapa waktu, Rahul akhirnya sadar kalau sekolah tempatnya mengajar memungut biaya terlalu tinggi untuk pendidikan yang mereka berikan. Sharma (Saurbh Shukla), sang manajer sekolah, tak ada hentinya memungut biaya dari orang tua murid untuk kegiatan ekstrakurikuler yang diwajibkan di sana. Kalau ada orang tua yang keberatan membayar maka yang jadi korban adalah anak-anak mereka.

Sadar kalau tindakan ini tak bisa diterima, Rahul mulai menggalang kekuatan dengan berusaha menyatukan para pengajar di sana. Anjali (Ayesha Takia) dan guru-guru lain sudah sepakat bahwa mereka harus mengungkapkan ketidakberesan ini namun yang membuat mereka terkejut justru adalah Aditya Sahay (Nana Patekar), sang kepala sekolah, yang malah memihak pada institusi padahal selama ini Aditya dikenal sebagai pengajar yang berdedikasi tinggi dan membuat sekolah Swaraswati Vidya Mandir jadi sekolah favorit di Mumbai.

The Book Of Eli

THE BOOK OF ELI


Lihat Gambar

Pemain: Denzel Washington, Gary Oldman, Mila Kunis, Ray Stevenson, Jennifer Beals, Frances de la Tour, Michael Gambon

3 star

Pasca perang besar yang berkecamuk, dunia dilanda kehancuran total. Di mana-mana yang ada hanyalah puing-puing bekas gedung-gedung dan manusia terpaksa harus kembali ke awal peradaban untuk kembali membangun peradaban yang telah mereka hancurkan sendiri ini. Salah satu dari beberapa orang yang berhasil selamat dari perang adalah Eli (Denzel Washington).

Selama tiga puluh tahun Eli berjalan mengarungi padang pasir yang dulunya adalah kota-kota megah yang hancur lebur. Tujuan Eli hanya satu, ia harus berjalan ke arah Barat untuk menemukan sebuah tempat yang akan menjadi awal baru bagi peradaban manusia. Perjalanan ini pula yang mempertemukan Eli dengan seorang pria bernama Carnegie (Gary Oldman), penguasa sebuah kota yang ada di tengah gurun pasir.

Carnegie tahu kalau Eli membawa sebuah buku yang sangat berharga. Barang siapa menjadi pemilik buku ini maka ia akan bisa menguasai dunia. Pada saat kehancuran dunia tiga puluh tahun sebelumnya, seluruh Alkitab yang ada di dunia telah dimusnahkan dan Eli adalah satu-satunya orang yang masih memiliki Alkitab. Tuhan memerintahkan Eli untuk membawa Alkitab ini ke tempat peradaban akan dibangkitkan lagi.

Eli telah bersumpah untuk melindungi Alkitab terakhir ini sementara Carnegie bertekad untuk merebutnya dari tangan Eli. Keadaan jadi semakin buruk saat putri Carnegie yang bernama Solara (Mila Kunis) malah terpikat pada Eli.

Ide yang ditawarkan dua sutradara, Albert Hughes dan Allen Hughes, ini memang bukan ide baru. Di awal tahun 1980-an lalu ada film berjudul MAD MAX 2 yang kurang lebih juga mengusung latar belakang yang sama walaupun tak sama persis. THE POSTMAN yang beredar di tahun 1997 juga menawarkan nuansa yang kurang lebih sama. Dengan menggabungkan MAD MAX 2 dan THE POSTMAN ditambah dengan sentuhan religius maka jadilah THE BOOK OF ELI ini.

Untungnya, duo sutradara Hughes ini mampu menyajikan ramuan baru itu dalam sebuah sajian yang tak membosankan. Hampir sepanjang film penonton diberi suguhan pemandangan Amerika Serikat yang telah hancur lebur (tentunya dengan bantuan permainan CGI). Untuk membuatnya lebih realistis, Hughes menuangkannya dalam gambar-gambar berwarna sepia cenderung ke arah hitam-putih. Hanya pada beberapa bagian saja warna-warna kembali dimunculkan, mungkin sekedar mengingatkan kalau ini bukan film hitam-putih.

Tanpa harus meremehkan peran Jennifer Beals dan Mila Kunis, film ini notabene adalah filmnya duo Denzel Washington dan Gary Oldman. Dua-duanya bermain meyakinkan sebagai karakter mereka meski kalau mau jujur tak ada yang terlalu 'wah' dari akting kedua bintang kawakan ini.

Menembus Impian

MENEBUS IMPIAN


Lihat Gambar

Pemain: Acha Septriasa, Fedi Nuril, Ayu Diah Pasha, Haykal Kamil, Eric Scada, Ayu Diana, Cici Tegal

Impian bukan sekedar harapan akan sesuatu yang indah, impian adalah pemicu semangat untuk terus maju. Yang membuat kita selalu siap menghadapi tantangan dan bangkit kembali saat cobaan menghadang. Semangat inilah yang ingin ditularkan Hanung Bramantyo lewat filmnya MENEBUS IMPIAN.

Film yang sejak awal mendapat cibiran karena mengangkat kisah kesuksesan Multi Level Marketing ini, merupakan impian Hanung untuk menyebarkan energi positif dalam filmnya. Kisah film ini bertutur tentang Nur (Acha Septriasa), seorang mahasiswi yang menjalani kehidupan keras bersama ibunya, Sekar (Ayu Diah Pasha), yang hanya bekerja sebagai seorang buruh cuci. Meskipun hanya sebagai buruh cuci, Sekar ingin Nur menyelesaikan kuliahnya. Untuk biaya kuliah tersebut, Sekar rela berkorban. Kesehatannya yang memburuk akibat kanker otak tidak dipedulikan.

Sedangkan Nur yang merasa kasihan melihat keadaan ibunya, memutuskan mengambil cuti dari kuliahnya. Uang biaya kuliah digunakannya untuk mendaftar sebuah MLM. Dian (Fedi Nuril), seorang mahasiswa yang walau masih sepantarannya namun sudah mulai mapan, yang mengajak Nur bergabung dalam bisnis MLM. Dian sendiri selalu mendampingi Nur dalam merangkai mimpi-mimpi masa depannya. Dian jugalah yang membuat Nur kembali berani untuk bermimpi dan bercita-cita kembali. Kebersamaan Nur dengan Dian pun menimbulkan benih-benih asmara di antara keduanya.

Konflik mulai memanas ketika Sekar, ibu Nur, jatuh tidak sadarkan diri saat menjemur cucian. Nur yang sibuk mencari downline sulit dihubungi. Saat kembali ke rumah dan menemukan ibunya terbaring ditunggui tetangga, Nur merasa marah pada dirinya sendiri, mencoba menyalahkan keadaan, saat ayahnya meninggalkan ibunya dan dirinya. Impian-impian membahagiakan ibunya juga hancur berkeping-keping.

Di tengah keputusasaan, Nur kalut dan meminjam uang pada rentenir dengan bunga tinggi. Sedangkan jaringan MLM yang dijalaninya belum mendapatkan titik terang. Sementara cobaan lain datang beruntun, jaringan MLM di bawahnya disabotase oleh money game. Kehidupan cintanya juga terkoyak saat melihat Dian bersama perempuan lain. Melihat keadaan ibunya terbaring tak berdaya menunggu masa operasi, Nur mulai dilanda rasa putus asa.

Setelah beberapa kali jatuh bangun Nur pada akhirnya mulai merasa ragu dengan impian miliknya yang tampak tidak mungkin untuk diraih. Saat itulah Dian kembali hadir menawarkan impian kepada Nur. Nur akhirnya mampu 'menebus impian' dengan kerja kerasnya.

Kasih sayang ibu yang tidak pernah surut, ditampilkan apik oleh Ayu Diah Pasha. Tak heran jika Hanung berulang kali menegaskan film ini secara khusus dirilis tanggal 15 April, menjelang Hari Kartini. Meskipun terkesan datar tanpa ada konflik yang menonjol, film bergenre drama ini cukup kuat menarik simpati penonton. Bahkan bagi Anda yang selama ini antipati dengan MLM tidak perlu ragu menontonnya. Karena MLM hanyalah sarana yang digunakan. Gambaran proporsional penyuka dan penolak MLM mendapat porsi yang sama di sini.

Zombieland

ZOMBIELAND

Lihat Gambar

Pemain: Woody Harrelson, Jesse Eisenberg, Emma Stone, Abigail Breslin

Saat dunia dilanda wabah yang mengubah manusia menjadi mayat hidup atau zombie hanya ada beberapa orang saja yang berhasil selamat meski dengan cara yang tak mudah. Columbus (Jesse Eisenberg) dan Tallahassee (Woody Harrelson) adalah dua di antara para survivor itu.

Columbus sebenarnya adalah seorang penakut tapi kalau sudah menyangkut masalah hidup dan mati, tak ada pilihan lain selain bertahan dari gigitan para zombie ini. Tallahassee, di sisi lain, adalah seorang maniak yang sangat menikmati setiap detik dari pertempurannya melawan para zombie ini. Meski berbeda karakter namun kedua pembantai zombie ini kompak layaknya sepasukan tentara.

Saat menjelajah setiap wilayah dalam usaha mencari lokasi yang aman untuk mereka tinggali ini, kedua pejuang ini bertemu Wichita (Emma Stone) dan Little Rock (Abigail Breslin) yang ternyata punya cara unik untuk bertahan hidup dari serbuan para mayat hidup. Walaupun awalnya keempat manusia ini memiliki pandangan yang berbeda dan sama-sama tak mau mengalah namun akhirnya mereka tetap harus memilih antara bersatu melawan para zombie atau jadi sasaran empuk para pemakan manusia ini.

Jangan salah sangka. Meski judul film ini ZOMBIELAND, film ini tidak bisa dibilang sepenuhnya sebagai film horor atau thriller. Malahan kalau mau jujur, sisi komedi dari film ini justru adalah titik tumpu sebenarnya dari film karya Ruben Fleischer ini. Tapi jangan terlalu kecewa karena unsur thriller masih tetap ada dan jelas lebih banyak karakter zombie daripada manusia dalam film ini.

Paul Wernick dan Rhett Reese sebagai penulis naskah tampaknya telah menimbang benar-benar antara sisi horor dan sisi humor dari film ini. Memang tak semua lelucon terdengar segar di telinga tapi setidaknya tidak terlalu basi juga. Sepertinya justru formula ini yang membuat film ZOMBIELAND ini jadi menarik. Suasana tegang terbangun dengan cukup baik sementara Woody Harrelson dan Jesse Eisenberg juga punya cukup ruang untuk menampilkan sisi konyol dari film ini.

Kalau unsur humor dan horor sudah cukup berimbang, justru penokohan yang terasa kurang terbagi rata. Paling tidak dua karakter pria dalam film ini mendapat porsi yang lebih besar dari para wanita. Sayang memang karena sebenarnya Emma Stone dan Abigail Breslin punya cukup kemampuan untuk tampil lebih.

Old Dogs

OLD DOGS


Lihat Gambar

Pemain: John Travolta, Robin Williams, Kelly Preston, Matt Dillon, Seth Green, Bernie Mac, Rita Wilson, Dax Shepard, Justin Long, Luis Guzman, Conner Rayburn

Dan (Robin Williams) dan Charlie (John Travolta) adalah dua sahabat baik yang juga adalah rekan kerja. Banyak yang sudah mereka lalui bersama namun ada satu hal yang tak pernah masuk dalam kamus mereka: pentingnya keluarga dan apa sebenarnya tujuan hidup ini.

Suatu ketika, Vicki (Kelly Preston), mantan istri Dan datang dan membawa kabar yang buat Dan adalah kabar paling buruk yang pernah ia terima. Vicky mengatakan bahwa selama ini Vicky dan Dan sebenarnya telah mempunyai dua orang anak kembar. Celakanya, Vicky meminta Dan untuk merawat kedua anak kembar mereka plus seekor anjing peliharaan kedua anak ini.

Tak tahu haru bagaimana, Dan hanya punya satu solusi: menghubungi Charlie, sahabat baiknya. Dua orang yang sama sekali tak tahu bagaimana berkomunikasi dengan anak kecil ini terpaksa harus melakukan apa saja untuk bisa membuat kedua anak dan seekor anjing ini senang. Meski tugas ini harus menguras tenaga Dan dan Charlie, di akhir petualangan, kedua pria paruh baya ini mendapat satu pencerahan tentang makna hidup sebenarnya.

Nama John Travolta dan Robin Williams saja biasanya sudah dapat dijadikan jaminan sebuah film berkualitas. Kemampuan akting dua aktor yang kurang lebih seangkatan ini memang tak bisa dianggap remeh. Coba saja lihat track record mereka yang cukup mengagumkan meski di sana-sini memang ada beberapa film yang tak terlalu bagus juga. Bisa dibayangkan bagaimana kalau dua aktor andal ini bergabung dalam film yang sama.

Kalau soal aktor pendukung sudah beres, maka yang jadi permasalahan sekarang adalah naskah dan penyutradaraan. Bila kedua faktor itu sudah dikerjakan dengan baik maka tidak ada yang menghalangi film ini menjadi salah satu film terbaik. Sayangnya justru itulah yang tidak terjadi pada film drama komedi berjudul OLD DOGS ini.

Bahkan aktor sekelas John Travolta dan Robin Williams pun sepertinya tak bisa berbuat banyak untuk mengangkat pamor film ini. Yang jelas, ide cerita tak bisa dibilang 'segar' sementara proses transformasi ide itu ke dalam bentuk naskah pun sepertinya tak berjalan dengan mulus. Akibatnya, joke terasa hambar sementara scene yang seharusnya jadi mengharukan pun tidak terlalu menggigit.

OLD DOGS ini adalah hasil karya keempat Walter Becker sebagai sutradara. Sebelum menggarap proyek komedi ini Walter sempat bekerja sama dengan John Travolta dalam film WILD HOGS namun anehnya, bukannya bertambah matang malahan OLD DOGS ini bisa dibilang tak lebih baik dari WILD HOGS. Sayang memang kalau mengingat yang dipasang adalah dua aktor sebagus itu.

Green Zone


GREEN ZONE


Lihat Gambar

Pemain: Matt Damon, Greg Kinnear, Brendan Gleeson, Amy Ryan, Khalid Abdalla, Jason Isaacs

3 star

Pemicu meledaknya perang Irak adalah keyakinan bahwa di negeri yang dipimpin oleh Saddam Hussein ini tersimpan sejumlah senjata pemusnah masal yang disembunyikan di suatu tempat di negeri ini. Berbekal keyakinan itu, pemerintah Amerika memerintahkan Chief Warrant Officer Roy Miller (Matt Damon) untuk mencari tahu lokasi senjata berbahaya ini.

Informasi lokasi senjata pemusnah masal ini jelas tak bisa didapat dari pihak Irak yang bersikukuh bahwa mereka tak memiliki senjata seperti yang dituduhkan pemerintah Amerika ini. Terpaksa Roy harus melacak lokasi senjata ini hanya dengan berbekal berbagai informasi yang didapatnya dari pihak intelejen. Meski sudah mendapat bantuan peralatan canggih, tetap saja pekerjaan ini bukan pekerjaan tanpa resiko.

Roy dan timnya harus menyisir padang pasir yang dipenuhi ranjau darat. Di tengah penyelidikan ini Roy mulai curiga bahwa ada sebuah konspirasi besar yang berusaha menutupi apa yang sebenarnya terjadi di Zona Hijau ini. Roy tahu bahwa pihak intelejen dari kedua belah pihak sedang berusaha membuat cerita yang menguntungkan pihak mereka masing-masing. Di saat genting seperti ini, kebenaran adalah senjata yang paling ditakuti.

Berbekal pengalamannya sebagai jurnalis televisi Paul Greengrass membuat film berjudul GREEN ZONE ini. Dan hasilnya memang cukup bagus. Paul mampu membawa kesan penonton sedang berada di Irak di saat Amerika sedang melancarkan invasi ke negeri 1001 malam itu. Sayangnya di titik tertentu gerakan kamera yang tidak stabil malah membuat film ini terasa sebagai sebuah chaos.

Sebenarnya langkah Paul Greengrass sudah tepat. Ia mengambil buku karya Rajiv Chandrasekaran sebagai dasar dibuatnya cerita film ini dan pemilihan materi dasar yang sudah kokoh ini membuat Brian Helgeland jadi lebih mudah menyusun naskah film ini. Memang film ini tak sepenuhnya didasarkan pada buku berjudul IMPERIAL LIFE IN THE EMERALD CITY itu dan kisah maupun tokoh dalam film ini hanyalah fiksi semata namun kepiawaian Paul dan Brian membuat cerita yang sebenarnya fiksi itu jadi terlihat logis meski di sana-sini masih ada celah dalam logika.

Perang memang tak harus jadi tema yang berat karena Paul sepertinya memilih menyajikan GREEN ZONE ini sebagai hiburan ala BOURNE dan sepertinya itu bukan sekedar dugaan karena Paul juga sempat menggarap dua film BOURNE dan Matt Damon juga muncul di sini. Mungkin karena sudah terbiasa berkolaborasi, Matt sepertinya tak mengalami kesulitan menerjemahkan kemauan sang sutradara.

Matt Damon memang jadi titik pusat film ini dan pada titik tertentu pula ini malah jadi kelemahan film ini. Kesan sedang menyaksikan film RAMBO tak bisa dihindari. Akhirnya suspense dan alur kisah yang sebenarnya bisa jadi credible itu malah sedikit berantakan. Tapi terlepas dari itu, GREEN ZONE tetaplah sebuah film yang layak ditonton.

Dear John

DEAR JOHN


Lihat Gambar

Pemain: Channing Tatum, Amanda Seyfried, Henry Thomas, Scott Porter, Richard Jenkins

Kata orang, cinta tak selalu harus memiliki. Mungkin kalimat itu benar namun untuk bisa sampai pada kesimpulan itu bukanlah sebuah perjuangan yang ringan. John Tyree (Channing Tatum), misalnya, membuktikan cintanya pada Savannah Lynn Curtis (Amanda Seyfried) bukan dengan cara memiliki Savannah.

Saat sedang mengambil cuti dari tugasnya di militer, John secara tidak sengaja berkenalan dengan Savannah dan Tim (Henry Thomas). Dalam waktu singkat, cinta pun tumbuh di hati John dan Savannah. Sayang John masih harus menyelesaikan tugasnya di militer sebelum ia bisa meminang Savannah. Saat berpisah, John berjanji bahwa ia akan segera kembali untuk meminang Savannah yang sanggup menunggu sampai John kembali.

Tepat di saat masa tugas John sudah berakhir, terjadi peristiwa tragis 11 September yang membuat John berubah pikiran. John merasa bahwa tenaganya masih diperlukan dan memutuskan untuk ikut bertugas meskipun ia sangat ingin pulang untuk menemui Savannah. Setahun John dan Savannah terpisah dan di saat yang bersamaan kedekatan antara Savannah dan Tim pun mulai berubah menjadi cinta.

Saat masa dinas sudah berakhir, John pun pulang hanya untuk mendapati Savannah dan Tim telah menikah. Tim ternyata sakit keras dan hampir tak ada harapan untuk hidup namun di saat seperti ini, John ternyata tetap bisa membuktikan bahwa cinta memang tak selalu harus memiliki.

The Lovely Bones

THE LOVELY BONES


Lihat Gambar

Pemain: Saoirse Ronan, Rachel Weisz, Mark Wahlberg, Stanley Tucci, Susan Sarandon, Amanda Michalka, Rose McIver

2,5 star

Susie Salmon (Saoirse Ronan) sebenarnya hanya ingin mencari jalan paling singkat menuju rumahnya saat pulang sekolah. Celakanya ide sederhana ini berubah menjadi malapetaka ketika ia bertemu George Harvey (Stanley Tucci), tetangga Susie yang ternyata adalah seorang psikopat. Sayang semuanya sudah terlambat.

THE LOVELY BONES

George lantas memperkosa Susie dan menghabisi gadis belia ini. George kemudian memotong-motong tubuh Susie dan membuangnya di sebuah lubang di tempat yang terpencil. Tubuh Susie tak pernah ditemukan kecuali sepotong tangan yang tercecer saat George membuang tubuh Susie. Pasca kematian Susie ini, keluarga Susie mulai didera perasaan bersalah.

Perlahan keluarga yang semula harmonis ini mulai terpecah belah. Jack (Mark Wahlberg), ayah Susie mulai sering mengurung diri sementara Abigail (Rachel Weisz), ibu Susie mulai dekat dengan detektif Len Fenerman (Michael Imperioli) yang menyelidiki kasus kematian Susie. Pada saat petunjuk mengenai kematian Susie mulai terungkap, George Harvey telah lama menghilang sementara keluarga mendiang Susie pun sudah terpecah-belah.

THE LOVELY BONES

Menerjemahkan sebuah novel ke dalam bentuk visual memang bukan sebuah pekerjaan mudah. Meringkas novel setebal tiga ratus halaman lebih menjadi sebuah film dengan durasi sekitar dua jam adalah sebuah pekerjaan berat. Masalahnya, sang sutradara tidak hanya harus mengusung fakta dari versi cetak menjadi rangkaian gambar namun juga harus memindahkan roh dari kisah dalam tulisan ini ke bentuk baru.

Dalam sejarah, banyak sutradara yang gagal memenuhi tugas tersebut dan akhirnya film yang ia buat hanya jadi objek caci-maki para kritikus film atau penonton yang sudah membaca versi novel dari film itu. Untungnya kasus yang sama tidak terjadi pada film yang disutradarai oleh Peter Jackson ini. Paling tidak bisa secara garis besar, apa yang ingin dikisahkan Alice Sebold lewat novelnya bisa dituturkan Jackson lewat film ini.

THE LOVELY BONES

Terlepas dari itu, film sendiri adalah sebuah bentuk karya seni dan layak dinilai sebagai karya yang berdiri sendiri, terlepas dari sumbernya. Dalam hal ini, THE LOVELY BONES bisa dibilang cukup bagus meski tidak benar-benar fenomenal. Kalau alur cerita utama sudah bisa ditransfer maka yang jadi masalah adalah pembentukan karakter yang sepertinya masih belum sempurna. Bukan karena salah sang aktor namun lebih karena keterbatasan waktu sementara visualisasi dari bagian lain juga harus ditayangkan.

Secara umum, Saoirse Ronan bermain cukup bagus walaupun masih belum sebanding dengan permainannya dalam ATONEMENT tiga tahun yang lalu. Stanley Tucci yang bermain sebagai Harvey juga tak bisa dibilang buruk. Selebihnya, tak ada yang menonjol dari akting para pendukungnya.

When In Rome

WHEN IN ROME


Lihat Gambar

Pemain: Kristen Bell, Josh Duhamel, Will Arnett, Jon Heder, Dax Shepard, Danny DeVito, Anjelica Huston

1,5 star

Berhati-hatilah dengan apa yang Anda harapkan! Barangkali itulah yang ingin disampaikan oleh film berjudul WHEN IN ROME ini. Karena putus asa dan tak terlalu yakin apa yang ia harapkan bakal menjadi kenyataan, Beth Harper (Kristen Bell) malah harus menghadapi banyak masalah yang jauh lebih rumit dari masalah yang semula ia hadapi.

Beth Harper adalah seorang kurator museum di New York yang cukup sukses dalam karier. Di usianya yang masih terhitung muda Beth sudah menduduki posisi yang tak mudah didapatkan namun sebagai konsekuensinya kehidupan pribadi Beth jadi terbengkalai. Kalau soal karier Beth bisa dibilang wanita yang beruntung tapi soal asmara justru malah sebaliknya.

Suatu ketika Beth harus berangkat ke Roma karena adiknya yang berada di sana tiba-tiba memutuskan menikah dengan pria yang baru saja dikenalnya. Saat berada di Italia inilah Beth berkenalan dengan sebuah tempat yang disebut mata air cinta. Konon barang siapa melempar mata uang logam ke kolam mata air ini maka ia akan segera mendapatkan jodohnya. Celakanya, karena sebuah 'kecelakaan' Beth bukannya melempar uang logam ke kolam ini malah mengambil beberapa uang logam yang ada di sana.

Kontan saja beberapa pria yang tak dikenalnya tiba-tiba saja memburu Beth ke mana pun ia pergi. Konon, menurut legenda, barang siapa mengambil mata uang logam yang ada di kolam ini maka ia akan berhasil merebut hati pemilik uang logam ini. Kalau sebelumnya Beth harus berusaha keras untuk mendapatkan pria, kini Beth harus mati-matian menghindar dari beberapa pria yang memburunya sampai ke kota New york.

Kalau mau jujur, formula yang ditawarkan Mark Steven Johnson, sang sutradara sekaligus penulis naskah film ini, sebenarnya bisa dibilang generik. Tak banyak hal baru yang ditawarkan Mark kali ini. Dari sepenggal kisah di atas saja Anda pasti akan tahu kalau lelucon yang ada dalam film ini pasti akan berada di seputar kekonyolan saat Beth dikejar-kejar oleh empat pria ini. Anda tidak salah.

Di lain sisi, fungsi film komedi memang adalah untuk menghibur dan untuk fungsi yang satu ini, WHEN IN ROME sebenarnya sudah cukup berhasil. Artinya, penonton tak perlu terlalu banyak berpikir karena alur kisah memang dibuat sangat sederhana. Anda tinggal duduk manis dan menertawakan kekonyolan yang terjadi di antara para karakter dalam film ini. Sebagai bonus, Anda juga mendapat sepenggal kisah romantis yang menjadi sisi lain dari film ini.

Cinta 2 Hati

CINTA 2 HATI


Lihat Gambar

Pemain: Afgan Syah Reza, Olivia Lubis Jensen, Tika Putri, Deddy Mizwar

Sebagai penyanyi yang tengah naik daun, Alfa (Afgan Syah Reza) bisa dibilang memiliki modal yang cukup untuk mendapat banyak fans. Suara yang bagus, wajah yang tampan, dan tentu saja karir yang cemerlang. Kegiatan Alfa setiap harinya berkutat dari satu panggung ke panggung lainnya, yang banyak bertemu dengan perempuan-perempuan cantik.

Pun begitu Alfa masih bisa menjadi dirinya sendiri dan tetap setia menjaga hatinya untuk Laras (Tika Putri), kekasihnya. Meski kadang Laras harus merelakannya waktunya bersama Alfa semakin sedikit dan Alfa sering dikelilingi fansnya yang sebagian besar adalah gadis belia.

Dari ribuan fans, muncullah fans yang cukup fanatik pada Alfa, yakni Jane (Olivia Lubis Jensen). Tak cuma sekedar menyukai aksi panggung Alfa, Jane ingin Alfa mencintai dirinya. Berkat bantuan sang kakek, Bakti Hasan (Deddy Mizwar), konglomerat ternama, maka tak begitu sulit membuat Jane masuk di kehidupan Alfa.

Selain karena cucu kesayangannya, ternyata Jane juga menderita kanker. Karena itulah, sang kakek ingin memberi kebahagiaan pada hari-hari terakhir Jane, maka apapun permintaan Jane akan dikabulkannya.

Setelah tampil sebagai cameo di BUKAN CINTA BIASA, kini lewat CINTA 2 HATI, Afgan memperlihatkan bakatnya yang lain, yakni berakting. Jika sudah bosan dengan film-film horor dewasa, film drama remaja ini layak jadi tontonan, apalagi jika termasuk penggemar adegan panggung Afgan sebagai penyanyi, CINTA 2 HATI sayang jika dilewatkan begitu saja. Ditambah kehadiran aktor senior Deddy Mizwar, bisa dianggap jaminan kualitas film besutan Benni Setiawan ini.

Surrogates

SURROGATES


Lihat Gambar

Pemain: Bruce Willis, Radha Mitchell, Rosamund Pike, Ving Rhames

Di masa depan, orang tak lagi senang berinteraksi dengan sesama manusia. Sebagai gantinya, mereka menggunakan robot yang mewakili mereka untuk saling berhubungan dengan manusia lain. Orang memilih tinggal di rumah sementara robot mereka yang bekerja menggantikan mereka. Tentu saja tak semua orang senang dengan budaya baru ini.

Suatu ketika, terjadi kasus pembunuhan terhadap seorang mahasiswa yang juga adalah penemu dari robot yang menggantikan fungsi manusia ini. Seorang polisi yang diperankan oleh Bruce Willis mengambil tugas untuk menyelidiki kasus pembunuhan misterius ini, tentu saja dengan menggunakan robot yang mewakili tugasnya sebagai polisi.

Namun saat kasus ini mulai menjadi semakin pelik, polisi ini mulai menemukan satu teori bahwa satu-satunya cara menemukan sang pembunuh adalah dengan menghadapi sendiri kasus ini tanpa bantuan robot. Ia pun kemudian meminta bantuan dari polisi lain yang diperankan oleh Radha Mitchell. Kini kedua polisi ini harus benar-benar turun ke jalan, sesuatu yang telah lama mereka tinggalkan, untuk membongkar kasus kejahatan ini.

Ada sindiran yang cukup mengena saat menonton film karya sutradara Jonathan Mostow ini. Di zaman ketika segala sesuatu sudah terkait dengan internet seperti sekarang ini, kehidupan virtual mungkin sudah tidak asing lagi. Anda bisa jadi segala yang Anda inginkan di kehidupan yang tidak nyata ini. Tapi meski tidak nyata, toh itu tidak menghalangi orang datang berbondong-bondong menjadi bagian dari dunia virtual ini.

Walaupun tidak bisa dibilang sebuah ide yang benar-benar fresh, tapi SURROGATES masih mampu melepaskan diri dari belenggu kesamaan tema film-film fiksi ilmiah yang berkisah tentang kemajuan teknologi yang akhirnya memperbudak manusia dengan cara yang sangat literal. Alih-alih mengikuti tren ini, SURROGATES malah bermain di lahan psikologis manusia itu sendiri. Manusia jadi membenci dirinya sendiri dan lebih suka berinteraksi dengan 'avatar' yang mewakili diri mereka.

Soal akting, Bruce Willis memang tak perlu diragukan lagi. Penghayatannya pada karakter yang ia perankan terlihat realistis, atau barangkali karena karakter yang sama juga telah ia perankan dalam film-film sebelumnya dan yang satu ini bukanlah tantangan berat buat aktor ini. Yang jelas tak ada masalah yang terlalu mengganggu dalam soal akting meski beberapa peran pembantu sepertinya tidak mampu mengimbangi Bruce. Kalaupun ada sedikit ganjalan mungkin adalah penuangan ide cerita yang kurang matang. Ada titik-titik tertentu di mana alur cerita jadi sedikit kurang tergarap.

Terlepas dari itu semua, pertanyaan yang muncul akhirnya adalah, apakah Anda lebih suka terwakili bentuk ideal yang tak nyata atau justru malah memilih menjadi diri Anda sendiri?

REC 2

REC 2


Lihat Gambar

Pemain: Manuela Velasco, Ángela Vidal, Leticia Dolera, Ferran Terraza

Nasib Angela Vidal (Manuela Velasco) memang tidak bisa dibilang bagus. Dalam misi yang seharusnya mudah, ia malah terjebak dalam sebuah apartemen yang dipenuhi zombie yang siap memangsa sekaligus menularkan virus yang mereka bawa. Kini harapan Angela untuk keluar dari apartemen itu jadi semakin tipis.

Setelah mencoba berbagai macam cara untuk meloloskan diri dari apartemen maut itu gagal, pihak pemerintah yang semula mengarantina gedung itu akhirnya menurunkan satu tim khusus. Menteri Kesehatan Spanyol, Dr. Owen (Jonathan Mellor) datang bersama tiga orang anggota Kesatuan Khusus dengan persenjataan lengkap untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada para penghuni apartemen itu.

Harapan yang semula muncul tiba-tiba saja lenyap lagi karena ternyata para 'penyelamat' ini tak bermaksud menyelamatkan mereka yang terjebak di dalam apartemen itu. Mereka datang untuk mengambil sebuah tabung yang berisi sampel darah dari seorang gadis yang ternyata dirasuki setan.

Shutter Island

SHUTTER ISLAND


Lihat Gambar

Pemain: Leonardo DiCaprio, Mark Ruffalo, Ben Kingsley, Emily Mortimer, Michelle Williams, Jackie Earle Haley, Max von Sydow

3,5 star

Teddy Daniels (Leonardo DiCaprio) dan Chuck Aule (Mark Ruffalo) adalah dua orang U.S Marshal yang dikirim ke sebuah pulau di area Massachusetts yang bernama Shutter Island untuk menyelidiki kasus hilangnya seorang wanita bernama Rachel Solando (Emily Mortimer).

Shutter Island sebenarnya adalah sebuah pulau yang difungsikan sebagai rumah sakit untuk merawat para narapidana yang menderita gangguan kejiwaan. Sebelum menghilang, Rachel sempat meninggalkan sebuah pesan yang bertuliskan 'Apa yang terjadi pada pasien 67'. Teddy yakin bahwa pesan ini ada sangkut pautnya dengan hilangnya Rachel dan bertekad menelusuri kasus ini.

Sayangnya, tak semua pihak berminat menuntaskan kasus ini. Malahan pihak rumah sakit jiwa di sana menolak memberikan bantuan. Teddy akhirnya merasa curiga bahwa pihak rumah sakit terlibat sebuah kasus dan tak ingin Rachel ditemukan karena itu akan mengungkap sesuatu yang telah lama disembunyikan. Sayangnya Teddy bukan termasuk orang yang mudah menyerah. Ditambah lagi dengan badai yang menutup kemungkinan untuk meninggalkan pulau itu, tak ada pilihan buat Teddy selain melanjutkan penyelidikannya.

Martin Scorsese memang bukan sutradara biasa. Bisa dibilang sutradara yang satu ini adalah legenda Hollywood yang masih ada hingga sekarang. Film-filmnya selalu mendapat pujian dari para kritikus dan SHUTTER ISLAND ini bukanlah pengecualian. Walaupun mungkin masih belum bisa disamakan film-film seperti GANGS OF NEW YORK atau RAGING BULL namun tetap saja SHUTTER ISLAND ini adalah sebuah film yang dikerjakan dengan serius.

Langkah awal Scorsese mengambil materi sudah tepat. Versi novelnya sendiri memang sempat mendapat pujian dari sebagian besar kritikus sekaligus sanggup merebut hati para pembaca. Keputusan menggaet Laeta Kalogridis untuk mengadaptasi novel ini menjadi sebuah skenario film juga tak salah karena penulis naskah ini mampu membawa roh novel karya Dennis Lehane ini ke bentuk nyata sebuah skenario.

Scorsese sepertinya juga tak mau mengambil risiko menggunakan aktor dan aktris baru dan memilih nama-nama besar seperti Leonardo DiCaprio, Ben Kingsley, Mark Ruffalo, dan Michelle Williams sebagai pemeran inti. Mungkin sekilas terdengar seperti marketing gimmick namun pada kenyataannya merek ini memang aktor dan aktris yang bisa diandalkan.

Setelah semua beres, kini tinggal tugas Scorsese menuangkan visinya ke dalam bentuk visual dan hasilnya memang memuaskan. Mulai dari angle pengambilan gambar, suara hingga special effect yang digunakan terasa sangat efektif membawa nuansa tegang pada penonton. Ada kesan seperti sedan menyaksikan karya Alfred Hitchcock namun itu tak jadi soal karena Scorsese tak sekedar mengekor saja.

Clash Of The Titans

CLASH OF THE TITANS




Pemain: Sam Worthington, Gemma Arterton, Liam Neeson, Ralph Fiennes

2,5 star

Meskipun ia adalah keturunan dewa Zeus (Liam Neeson), Perseus (Sam Worthington) dibesarkan di antara para manusia dan tak pernah tahu kalau ia memiliki kekuatan dewa. Perseus bahkan tak bisa berbuat banyak ketika keluarganya menjadi korban keganasan Hades (Ralph Fiennes), Dewa Kegelapan, yang berusaha menguasai seluruh alam semesta.

Penduduk pulau Argus mulai membangkang pada para dewa. Mereka membakar kuil, merobohkan patung-patung dan ini membuat para dewa di Olympia gusar. Hades pun turun untuk memberi pelajaran pada orang-orang yang tak tahu berterima kasih ini. Hades meminta korban. Ia mengambil Andromeda (Alexa Davalos) dan mengancam akan melepas monster Kraken jika warga Argus tetap membangkang.

Sayang Hades salah memilih musuh. Perseus yang sudah tak tahan lagi melihat ulah Hades yang telah membunuh orang tua angkatnya memutuskan untuk melawan. Bersama beberapa prajurit, Perseus pun berangkat mencari cara untuk mengalahkan Kraken dan menyelamatkan Andromeda. Misi ini bukan misi yang mudah. Perseus harus menghadapi banyak penghuni alam kegelapan sebelum bisa menemukan Andromeda.

CLASH OF THE TITANS yang diedarkan Warner Bros. ini sebenarnya adalah remake dari film berjudul sama yang muncul di tahun 1981. Ide dasarnya adalah menghidupkan lagi kisah lama ini dalam bentuk visual yang lebih bisa diterima konsumen saat ini. Artinya, tak akan banyak perubahan yang dilakukan kecuali memperbaiki sisi visual dan itu tidak akan terlalu sulit karena teknologi film saat ini jelas jauh lebih maju dari tahun 1981.

Dalam soal visual, CLASH OF THE TITANS ini memang tak mengalami banyak masalah. Disajikan dalam dua format, 2D dan 3D, teknologi CGI yang digunakan dalam film ini memang jauh lebih realistis dari versi aslinya. Sayangnya hanya itu yang bisa diharapkan dari film ini. Selebihnya tak banyak yang bisa dilihat.

Memang ada banyak nama besar yang dipasang sebagai pendukung dalam film ini. Sam Worthington yang memang sedang naik daun dipilih sebagai pemeran utama sementara di belakang Worthington masih ada sederet nama seperti Gemma Arterton, Ralph Fiennes, dan Liam Neeson yang sepertinya sengaja dipasang untuk menjadi 'jaminan' agar film ini laris saat diedarkan nanti.

Frozen

FROZEN




Pemain: Kevin Zegers, Kane Hodder, Shawn Ashmore

Acara apa lagi yang paling tepat untuk menghabiskan liburan musim dingin selain bermain ski atau snowboarding. Itulah yang ada dalam pikiran Parker (Emma Bell), Dan (Kevin Zegers), dan Lynch (Shawn Ashmore). Sayangnya mereka tak sadar kalau ski dan snowboarding ternyata punya risiko yang cukup tinggi.

Saat ketiga anak muda ini sedang mendaki ke puncak dengan mengendarai chairlift tiba-tiba saja chairlift yang mereka tumpangi macet dan mereka tak bisa menghubungi operator untuk meminta bantuan. Awalnya mereka berharap itu hanyalah kerusakan kecil dan tak lama lagi chairlift yang mereka tumpangi akan kembali berjalan normal.

Harapan ketiga anak muda ini mulai pupus ketika mereka menyadari kalau lampu-lampu sudah mulai dimatikan. Artinya mereka akan terjebak di atas dalam waktu yang lama. Panik makin menguasai mereka ketika mereka sadar kalau resor akan ditutup sampai akhir pekan depan. Tahu kalau tak lagi bisa mengandalkan bantuan dari orang lain, mulailah ketiga anak muda ini merencanakan cara untuk lolos dari maut yang mengancam mereka.

Sialnya, kedinginan ternyata hanyalah sebagian kecil dari ancaman yang akan mereka hadapi dan diperlukan lebih dari keinginan untuk bertahan hidup agar mereka bisa selamat.

Alice In Wonderland

ALICE IN WONDERLAND


Lihat Gambar

Pemain: Johnny Depp, Anne Hathaway, Helena Bonham Carter, Crispin Glover, Mia Wasikowska

3,5 star

Tak terasa waktu telah bergulir dengan cepat. Alice (Mia Wasikowska) kini telah berusia 19 tahun dan melupakan segala petualangan yang sempat ia alami ketika masih kecil. Alice tak akan ingat jika saja petualangan itu tak datang lagi kepadanya tepat ketika ia sedang berada di sebuah pesta.

Alice yang sedang berada di sebuah pesta tiba-tiba menyadari bahwa ia akan segera dilamar di hadapan para pengunjung pesta saat itu. Merasa tak siap menghadapi itu, Alice pun mencoba untuk menghindar. Saat berusaha melarikan diri inilah Alice bertemu White Rabbit (Michael Sheen) yang membimbingnya masuk ke lubang yang ternyata menuju ke Wonderland.

Sepeninggal Alice sepuluh tahun sebelumnya, terjadi sebuah kudeta. Red Queen (Helena Bonham Carter) berhasil mengambil alih kekuasaan dari White Queen (Anne Hathaway). Seluruh penghuni Wonderland hanya bisa menunggu waktu yang tepat sambil mempersiapkan diri untuk merebut kembali kekuasaan dari Ratu yang jahat ini.

Kembali bertemu Cheshire Cat (Stephen Fry), Tweedledee dan Tweedledum (Matt Lucas), March Hare (Noah Taylor), Mad Hatter (Johnny Depp) dan Caterpillar (Alan Rickman), ingatan masa lalu Alice pun kembali. Kini Alice menjadi tumpuan harapan semua penghuni Wonderland yang telah lama hidup dalam tekanan.

How To Train Your Dragon

HOW TO TRAIN YOUR DRAGON


Lihat Gambar

Pemain: Jay Baruchel, America Ferrera, Jonah Hill, Gerard Butler, Christopher Mintz-Plasse, Craig Ferguson

4 star

Menjadi seorang Viking artinya harus mampu memburu dan membantai naga yang selalu membuat kerusakan. Itulah adat yang berlaku di desa Hiccup (Jay Baruchel). Sayangnya, Hiccup bukanlah tipe anak yang 'beringas' seperti kebanyakan anak-anak Viking. Hiccup adalah anak yang cerdas dan punya selera humor yang tinggi.

Ini jadi sedikit masalah buat Hiccup karena kepandaian dan selera humor bukanlah yang diharapkan sang kepala suku. Apalagi jika sang kepala suku adalah ayah Hiccup sendiri. Stoick (Gerard Butler) berharap Hiccup bisa menjadi seorang pejuang Viking yang tangguh dan suatu hari nanti menggantikannya menjadi kepala suku yang disegani.

Tak ada pilihan lain selain mengikutkan Hiccup ke dalam acara pelatihan naga agar Hiccup belajar menjadi seorang pria dalam definisi Viking. Sayangnya, ketika bertemu naga, Hiccup justru malah mengadakan pendekatan baru dan meninggalkan cara-cara tradisional Viking. Hiccup memilih berteman dengan sang naga dan berusaha meyakinkan seluruh suku bahwa mereka tak perlu menjadi bangsa pembantai naga dan naga bisa menjadi teman baik manusia jika manusia berusaha mengadakan pendekatan.

Selain Pixar, Hanya ada satu studio film animasi yang bisa jadi jaminan produk animasi berkualitas. DreamWorks. Coba saja lihat hasil karya studio animasi yang digagas oleh Steven Spielberg ini. SHREK, MADAGASCAR, BEE MOVIE, KUNG FU PANDA, dan yang terakhir, HOW TO TRAIN YOUR DRAGON ini, semuanya adalah film berkualitas baik secara visual maupun dari sisi cerita.

HOW TO TRAIN YOUR DRAGON yang didasarkan dari sebuah buku yang diterbitkan tahun 2003 lalu ini sebenarnya hanya ingin menyampaikan satu pesan saja, jangan takut untuk menerima hal baru. Tapi tentu saja pesan itu tak disampaikan dengan cara yang vulgar. Dalam film ini 'hal baru' itu dilambangkan dengan naga yang buat bangsa viking di masa itu adalah sesuatu yang belum dipahami dan karena itu jadi sesuatu yang menakutkan. Hiccup adalah lambang generasi muda yang lebih berani mencoba sesuatu yang baru meski risikonya belum mereka ketahui benar.

Dengan ide cerita sederhana ini tum penulis naskah lantas mengubahnya menjadi sebuah alur cerita yang 'bisa diterima' baik oleh anak-anak maupun orang dewasa sehingga pangsa pasar HOW TO TRAIN YOUR DRAGON ini jadi lebih luas. Dengan sentuhan dua sutradara, Chris Sanders dan Dean DeBois, tim animator lantas menerjemahkan naskah ini menjadi suguhan visual yang menarik lengkap dengan teknologi 3D yang sekarang memang sedang populer.

Dengan paduan alur cerita yang menarik dengan animasi yang tak kalah bagusnya, layak rasanya menyebut HOW TO TRAIN YOUR DRAGON ini sebagai sebuah film yang menghibur tanpa harus meninggalkan kualitas sebagai sebuah bentuk karya seni.

Clock

Guest Book

 
Copyright 2009 Pasha Grata Putrarinsi. All rights reserved.
Free WordPress Themes Presented by EZwpthemes.
Bloggerized by Miss Dothy